Pertanyaan tersebut sengaja penulis lempar di grup WA relawan dan ormas pendukung Anies Baswedan (ABW). Yaitu DPP Relawan Anies P24, Barisan Anak Abah (BARKAH), dan Sekretariat Bersama (Sekber) Relawan ABW. Maksudnya mencari sisi lain dari beragam kajian, informasi, peristiwa yang senantiasa meramaikan grup WA dimaksud.
Gayung bersambut. Ada delapan aktivis yang merespons: Mulyadi dari Aceh (DPP P-24), El-Nuzula, Neneng Soleha, Oom Fatmawati, dan Dede Wahyudin dari Kab. Bandung, Yoyo dari Ciamis (BARKAH), Apriani dan Ustaz Eka Sobarna dari Kota Bandung (Sekber Relawan ABW).
Menurut Mulyadi, para pendukung ABW harus terus meningkatkan kesadaran masyarakat. Pastikan masyarakat memahami visi dan misi ABW, beserta kelebihan dan kemampuan yang dia miliki. Selain itu, ga boleh berhenti membangun jaringan dan koalisi.
Langkah lainnya, mengoptimalkan media sosial. Perihal ini diyakini juga oleh El-Nuzula merupakan bagian langkah strategis untuk meningkatkan popularitas dan penyebaran visi ABW kepada masyarakat.
Mulyadi menegaskan bahwa menjadi presiden tidak hanya bergantung pada individu. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi. Yang tak kalah pentingnya mobilisasi persatuan dan melahirkan relawan-relawan militan seperti yang terus dilakukan oleh Relawan Anies P-24.
Melahirkan relawan-relawan ABW militan juga menjadi komitmen Neneng Soleha (Ma Neng). Salah satu caranya, bersama Ormas BARKAH mengadakan kegiatan sosial di masyarakat sekaligus mensosialisasikan ABW sebagai pemimpin handal. Langkah ini juga diamini oleh Oom Fatmawati dan Apriani. Dalam hal ini, Dede Wahyudin menekankan supaya relawan ABW juga menjadi suritauladan.
Selain itu, mesti sering bersilaturahmi dan memberikan tempat atau wadah untuk berkumpul sehingga terwujud tali persaudaraan yang baik. Neneng menyadari perlunya pencerahan kepada masyarakat terkait dengan mewujudkan pemimpin ideal guna perbaikan nasib bangsa ke depan.
Dari Sekber Relawan ABW, Ustaz Eka Sobarna mengingatkan pada 2029 total suara milenial dan gen Z berjumlah 40% penduduk Indonesia. Untuk itu, ia akan melakukan silaturahmi secara efektif dengan mereka. Dari mulai Forum KarTa sampai Komunitas Hobi dan Beladiri Milenial Kita jalin silaturahmi. Tujuannya untuk menyamakan persepsi tentang pemimpin. Pemimpin yang ideal era sekarang, sudah pasti ABW.
Kedua, kaum emak-emak dengan segala penghematan pengeluaran untuk keluarga. Tumbuhkan kesadaran kepada mereka bahwa untuk memperbaiki hidup harus ada pemimpin yang baik. Jadi, kita juga hadir melalui solusi-solusi nyata terkait kebutuhan mereka.
Ketiga, mendekati para pekerja migran yang datang ke kota untuk bekerja. Jadikan sebagai kesempatan untuk menyampaikan informasi pemimpin yang membawa misi perubahan. Lakukan pendekatan yang intens hingga akhirnya mereka faham dan bertekad kalau pulang ke daerah akan menyampaikan informasi-informasi yang baik ini.
Sementara Yoyo menjawab sederhana. Akan takzim menyukseskan agenda-agenda kerja BARKAH, terutama dalam konteks melahirkan relawan relawan militan ABW. Melahirkan maknanya melalui proses secara kontinu dan massif. Proses silaturahmi, proses edukasi, dan proses kreatif lainnya.
Jadi, melahirkan sangat berbeda dengan membentuk. Kalau membentuk lebih identik pada penggiringan untuk masuk pada suatu wadah. Membentuk lebih pada penjaringan.
Kesimpulannya: mari kita lahirkan relawan-relawan militan ABW. Relawan ABW lahir atas sebuah pemahaman. Relawan ABW lahir atas sebuah kesadaran. Relawan ABW lahir atas sebuah harapan dan keyakinan akan perubahan yang lebih baik lagi ke depan.
